LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN MUSEUM SITUS GUNUNG GAMPING EOSEN SEBAGAI REVITALISASI KAWASAN CAGAR ALAM DAN TAMAN WISATA ALAM GUNUNG GAMPING, AMBARKETAWANG, SLEMAN

OHMAR, THEODORUS ALRYANO DEOTAMA (2016) LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN MUSEUM SITUS GUNUNG GAMPING EOSEN SEBAGAI REVITALISASI KAWASAN CAGAR ALAM DAN TAMAN WISATA ALAM GUNUNG GAMPING, AMBARKETAWANG, SLEMAN. S1 thesis, UAJY.

[img] Text (Halaman Judul)
0TA13930.pdf

Download (746Kb)
[img] Text (Bab I)
1TA13930.pdf

Download (1455Kb)
[img] Text (Bab II)
2 TA13930.pdf

Download (1534Kb)
[img] Text (Bab III)
3TA13930.pdf

Download (2370Kb)
[img] Text (Bab IV)
4TA13930.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2320Kb)
[img] Text (Bab V)
5TA13930.pdf
Restricted to Registered users only

Download (3109Kb)
[img] Text (Bab VI)
6TA13930.pdf

Download (4Mb)

Abstract

Berdasarkan penelitian Prof. Gerth tahun 1929 dan Purnamaningsih tahun 1972, sampel batuan gamping pada situs Gunung Gamping yang terletak di kawasan Cagar Alam Gunung Gamping, Ambarketawang, Sleman, mengandung fosil-fosil laut yang berumur epoh Eosen. Eosen sendiri merupakan salah satu zaman pada masa kenozoikum sekitar 56,7 juta-35,5 juta tahun yang lalu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa situs Gunung Gamping ini merupakan batuan gamping tertua di Pulau Jawa jika dibandingkan dengan umur batuan gamping lainnya di Pulau Jawa yang rata-rata terbentuk pada epoh Miosen. Akan tetapi, karena eksploitasi karst besar-besaran yang dilakukan untuk membangun Kota Yogyakarta, situs Gunung Gamping ini hanya meninggalkan bongkahan sebesar 2m x 2m x 10m. Adapun terdapat adat yang masih sangat kental yang dilakukan masyarakat di kawasan ini untuk menghormati setan penunggu Gunung Gamping, yaitu Saparan Bekakak. Adat ini mengorbankan sepasang suami istri dalam bentuk boneka ketan dan dilakukan setiap bulan Sapar. Melihat potensi yang sangat besar, muncullah ide untuk merevitalisasi kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Gunung Gamping yang sampai sekarang belum dapat dijadikan sebagai Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) kedalam bentuk pengadaan Museum Situs Gunung Gamping Eosen. Selain menampilkan situs eksisting Gunung Gamping, museum situs ini akan menampilkan situs Gunung Gamping yang sampai saat ini masih terpendam dibawah tanah, beberapa koleksi yang berhubungan dengan art and history kawasan, dan sampel situs batu gamping di 4 jaman pada epoh Eosen. Kemudian fungsi lainnya yaitu research center serta public and facilities area yang meliputi perpustakaan, café, dan souvenir. Karena kondisi alam dan kebudayaan yang masih kental, pendekatan yang dilakukan dalam desain museum situs ini adalah The Obscure: Primordial and Untouched Theory yang akan menganalisis hal-hal yang bersifat intangible dan The Role of Nature in Architectural Creativity Theory yang akan menganalisis hal-hal yang bersifat tangible.

Item Type: Thesis (S1)
Uncontrolled Keywords: museum situs, revitalisasi, batu gamping, eosen
Subjects: Arsitektur > Lingkungan Kawasan
Penelitian Dosen > Arsitektur > Lingkungan Kawasan
Divisions: Fakultas Teknik > Program Studi Arsitektur
Depositing User: Editor UAJY
Date Deposited: 24 Nov 2016 11:19
Last Modified: 24 Nov 2016 11:19
URI: http://e-journal.uajy.ac.id/id/eprint/10820

Actions (login required)

View Item View Item