PESAN HOROR UNTUK MASYARAKAT URBAN

Tarigan, Morten (2007) PESAN HOROR UNTUK MASYARAKAT URBAN. S1 thesis, UAJY.

[img] Text (Halaman Judul)
0KOM02085.pdf

Download (205Kb)
[img] Text (Bab I)
1KOM02085.pdf

Download (245Kb)
[img] Text (Bab II)
2KOM02085.pdf
Restricted to Registered users only

Download (69Kb)
[img] Text (Bab III)
3KOM02085.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1714Kb)
[img] Text (Bab IV)
4KOM02085.pdf

Download (149Kb)

Abstract

Genre film horor saat ini begitu marak di Indonesia. Di tahun 2006 saja ada ekitar 12 film horor di produksi. Genre ini kembali lahir di tanah air dengan tampilan baru. Berbeda dengan genre horor sebelumnya yang selalu menampilkan setting dan cerita-cerita pedesaan, genre horor mutkahir selalu menampilkan setting di perkotaaan. Jelangkung yang diproduksi di tahun 2001 menjadi prototype film horor mutakhir Indonesia. Setelah film tersebut di produksi, puluhan film horor yang sejenis/se-genre pun muncul dari tahun ke tahun. Dalam teorinya sebuah genre tentunya sangat dekat dengan mitos kultural masyarakat tertentu. Genre merupakan struktur narasi yang tentu sangat dipengaruhi oleh konteks kultural tempat genre tersebut berkembang. Untuk itu mengidentifikasi, mengkategorikan dan menganalisis elemen-elemen genre sampai menemukan kovensi formula genre horor mutakhir Indonesia menjadi daya tarik peneliti. Pada penelitian ini metode yang dipakai adalah studi genre. Dalam metode ini, identifikasi dan analisis daripada struktur bahasa yang membentuk film-film dalam sebuah genre akan menjadi kegiatan utama. Untuk itu pendekatan struktural adalah pendekatan utama yang digunakan. Melalui film Jelangkung (2001), Bangsal 13 (2004), dan Kuntilanak (2006) peneliti akan mencoba menemukan rumusan struktur genre horor mutakhir Indonesia. Ketiga film dipilih berdasarkan perkembangan tahun ke tahun yang dianggap mewakili perkembangan genre tersebut. Pada hasil penelitian didapatkan bahwa sebenarnya genre horor mutakhir Indonesia paska. tahun 2000 sebenarnya Iebih baik disebut sebagai "horor urban". Nama genre tersebut tentu saja diperoleh dari tiap elemennya yang memiliki keterkaitan kuat dengan fenomena masyarakat urban atau perkotaan. Orang kota selalu menjadi karakter yang paling disalahkan dalam tiap narasi. Nilai-nilai yang ditawarkan genre ini sebenarnya adalah perenungan kembali bagi orang kota untuk tidak melupakan nilai-nilai leluhurnya.

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: Komunikasi > Jurnalisme
Divisions: Fakultas ISIP > Ilmu komunikasi
Depositing User: Editor UAJY
Date Deposited: 13 Sep 2013 11:27
Last Modified: 13 Sep 2013 11:27
URI: http://e-journal.uajy.ac.id/id/eprint/3857

Actions (login required)

View Item View Item