Bahasa dan Kontrol Tubuh Perempuan (2024)

Listiorini, Dina and Vidiadari, Irene Santika Bahasa dan Kontrol Tubuh Perempuan (2024). [Research] (Unpublished)

[img] Text (Dina Listiorini dan Irene Santika Listiorini)
Laporan Akhir Penelitian Dina-Irene.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract

Studi ini menunjukkan bahwa beberapa budaya atau bahasa daerah di Indonesia dapat mengontrol tubuh perempuan terutama untuk memandu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama mereka berhubungan di ruang publik dan dengan jenis kelamin lain. Ini adalah studi pertama yang menghubungkan bagaimana kata tradisional-lokal bekerja untuk mengontrol tubuh perempuan di Indonesia dalam konsep habitus dan doxa Bourdieu. Meskipun kajian bahasa daerah dalam beberapa budaya lokal dipelajari oleh para sarjana, namun masih sangat sedikit kajian yang mengeksplorasi beberapa kata lokal sebagai alat komunikasi yang ampuh untuk mengontrol ekspresi tubuh perempuan. Lenjeh misalnya, adalah kata yang populer di kalangan masyarakat Jawa. Umumnya, kata ini digunakan untuk mengoreksi wanita yang mempraktikkan perilaku terlalu ekspresif, terutama dengan pria, berdandan berlebihan dan berpakaian berlebihan jika mengacu pada "cheesy", atau jika ingin mengkategorikan wanita sebagai 'pelacur' atau dianggap "terlalu ramah". dengan laki-laki. Sama seperti istilah lenjeh, beberapa istilah lokal seperti endel atau menthel (banyak dikenal di Jawa Timur), gittal (Sumatera Utara) dan kijil atau lanji (Kalimantan). Untuk alasan yang sama, kata-kata itu juga berfungsi untuk mengendalikan tubuh perempuan. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, menggunakan wawancara mendalam dan beberapa diskusi kelompok terfokus dengan orang-orang dari berbagai jenis kelamin, budaya, pekerjaan dan daerah di Indonesia yang memiliki latar belakang dan identitas pribadi yang berbeda. Topik ini akan dianalisis dengan menggunakan konsep Bourdieu, khususnya arena, habitus dan doxa. Tulisan ini menunjukkan, pertama, kata-kata lokal tersebut dalam konteks geografis dengan latar belakang yang berbeda-beda umumnya ditujukan kepada perempuan dari berbagai usia untuk memperbaiki perilakunya. Kedua, menjelaskan bagaimana kata-kata budaya seperti lenjeh, endel, menthel, gittal, kijil, lanji, dan lain-lain dipertahankan secara turun temurun oleh pemilik keluarga seperti orang tua untuk menjalankan kekuasaan otoritatifnya. Ibu dan wanita tua lainnya kebanyakan menjadi anggota keluarga yang sering menggunakan istilah ini untuk mengontrol perilaku anak perempuannya terutama dalam arena relasi anak perempuan dengan laki-laki di luar keluarga. Terakhir, kata-kata lokal tersebut kemudian menjadi tidak hanya sebagai “family doxa”, semacam kebenaran yang tak terbantahkan, tetapi juga praktik kekerasan simbolik dari habitus budaya patriarki Indonesia.

Item Type: Research
Subjects: Komunikasi > Kajian Media
Divisions: Fakultas ISIP > Ilmu komunikasi
Depositing User: Editor 3 uajy
Date Deposited: 17 Mar 2025 08:55
Last Modified: 17 Mar 2025 08:55
URI: http://e-journal.uajy.ac.id/id/eprint/33802

Actions (login required)

View Item View Item